smookey-room

"Ruang Ejakulasi Otak-otak Panas Yang Kerap Terkungkung Oleh Segala Bentuk Penekanan penekanan"

Friday, August 12, 2005

Antara Pria & Wanita

Pria; Makhluk yang kerap bertingkah di luar batas kewajaran dan logika. Terkadang dia sadari, terkadang tidak. Bahkan, terkadang menjadi sebuah kesengajaan..

Wanita; Selalu menjadi makhluk yang teramat sempurna, tepat ketika pria menyadari bahwa dirinya bukanlah apa-apa..

Gila..!

Friday, March 25, 2005

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

Tuesday, March 22, 2005

Air Mata Si Anak Kerang

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh
pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan
lembek. "Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak
memberikan pada kita bangsa kerang sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak
bias menolongmu. Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu
sebagai takdir alam."
"Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan
rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah
perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan
lembut.
Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa
sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan
nasihat ibunya.
Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa
disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama
makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya
semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.
Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap,
dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah
menjadi
mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini,
sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta
kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir
jalan.
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan
adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi
"kerang luar biasa". Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan
penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".
sO..sahabat muda mungkin saat ini kamu sedang mengalami penolakan,
kekecewaan, patah hati, atau terluka krn orang2 disekitar kamu..cobalah
utk tetap tersenyum dan katakan didalam hatimu.."airmataku
diperhitungkan TUhan..dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi
mUtiaRa2..."

Tuesday, March 15, 2005

Free Image Hosting at www.ImageShack.us
Kado buat cewe gw, pas valentine's day 2005.

Saturday, June 12, 2004

Susahnya Menjadi Gila

Lagi, pernyataan aneh saya kemukakan disini: "Susahnya Menjadi Gila". Mungkin, untuk yang satu ini perlu saya berikan sebuah penjabaran. Agar ke depan, ada orang yang sepaham dengan pernyataan saya, bahwa "untuk menjadi gila" itu susah. Beruntunglah mereka yang bisa gila tanpa harus berusaha untuk mendapatkannya. Atau, mereka yang memang terlahir untuk menjadi seseorang yang gila. Selamat untuk mereka...

Untuk diketahui, saya telah sering mengamati prilaku saudara-saudara kita yang mendapat julukan "orang gila" dari mereka yang menyatakan dirinya waras (bisa jadi saya berada dalam kelompok orang-orang itu). Bahkan, tak hanya sekadar pengamatan saja yang saya lakukan. Percaya atau tidak, saya pernah mewawancarai beberapa orang gila yang secara kebetulan saya temukan--atau memang yang sengaja saya cari.

Pertama, harus saya katakan bahwa pada mulanya, "kegiatan" mencari dan mewawancarai orang gila adalah tugas yang harus saya emban. Tapi, lama kelamaan, saya terbuai, dan tak lagi menganggap apa yang diembankan itu sebuah kewajiban yang harus saya lakukan. Melainkan sebuah kesenangan yang saya jalani tanpa beban.

Seingat saya, "kegiatan" itu saya lakukan sekitar satu setengah tahun lalu, minggu kedua di bulan puasa tahun 2002. Dan, bukan hanya saya yang diembankan tugas tersebut. Masih ada beberapa rekan saya yang juga mendapat "kepercayaan" yang sama. Maka, jadilah saya dan kawan-kawan saya itu "Pemburu Orang Gila", yang juga harus memotret orang-orang gila yang kami temui dan kami wawancarai.

"Gila!" pikir kami waktu itu. Tapi, tetap tugas itu kami lakukan, dan berhasil. Kami sukses membawa pulang jawaban-jawaban hasil wawancara, berikut potret-potret orang-orang gila yang kami jumpai dan memang sengaja kami cari itu. Dan, di sinilah otak dalam kepala saya berkata, "Betapa susahnya menjadi orang gila." Entah apakah kawan-kawan saya berpikiran sama dengan apa yang saya pikirkan waktu itu.

Orang-orang gila itu, menurut saya, adalah manusia-manusia yang "Menakjubkan!!!" Bagaimana tidak? Dalam kehidupan beragama, mereka mendapat sebuah prioritas khusus, yakni terbebas dari segala kewajiban-kewajiban ritual. Bahkan, apa yang disebut dengan "dosa" pun tak wajib pula mereka terima! Maka, tak salah jika saya menyebut mereka (orang-orang gila itu) sebagai "Kaum minimalis yang sukses dalam menjalani hidup".

Tak hanya itu, di dunia ini pun para orang-orang gila itu bisa membebaskan dirinya dari segala keterkungkungan akan aturan-aturan kehidupan. Aturan yang penuh dengan pembatasan-pembatasan untuk hidup dan berkehidupan. Aturan yang sengaja dibuat oleh mereka, yang menamakan dirinya "orang-orang sadar". Aturan, yang mereka pahami dan yakini, tak lebih hanya ada untuk menyiksa dirinya sendiri!!

Lalu, pernah pula suatu ketika saya mendengar sebuah kisah, bahwa ada orang-orang berilmu tinggi (dalam beragama), yang sengaja memposisikan diri mereka menjadi orang gila. Ya, orang gila yang sesungguh-sungguhnya orang gila itu. Tujuannya, kata orang yang menceritakan kisah ini kepada saya, adalah untuk menutupi segala ilmu yang mereka miliki, dari orang lain. Bahkan, katanya pula, "orang gila" yang mereka kisahkan, memiliki "kedekatan khusus" dengan Tuhan. Nah, untuk diketahui pula, salah seorang penutur kisah itu adalah orang yang mengembankan 'tugas anehnya' kepada saya dan rekan-rekan saya.

Namun terlepas dari itu semua, ijinkan saya mengajak Anda sejenak membalikkan fakta yang sama-sama kita fahami sejak dulu hingga sekarang. Cobalah Anda men-set up otak Anda untuk memikirkan bahwa orang gila menjadi kaum mayoritas, lalu kita (yang katanya sadar ini) menjadi kaum minimalis. Jika selesai Anda melakukan itu, selanjutnya bisakah Anda sebutkan, giliran siapa yang disebut sebagai orang gila di sini?
Itulah, mengapa saya katakan, betapa Susahnya Menjadi Gila...

"Jujur" Dalam Hidup dan Berkehidupan

JUJUR. Banyak yang mengatakan bahwa "jujur" adalah kata yang tepat untuk mengawali pencarian seorang anak Adam akan sebuah arti hidup. Saya pikir, tak perlu dilakukan sebuah pembahasan, kenapa "jujur" menjadi sebuah permulaan untuk kita, mencari arti hidup. (Biarlah mereka puas berkata dan menempatkan kata-kata dalam hidup mereka)

Karena, harus kita akui bahwa terkadang mereka ada pula benarnya. Kita (kata mereka)--ketika menjalani hidup--kerap lupa dengan apa yang disebut dengan "jujur" tersebut. Sedangkan menurut saya, terkadang (atau bahkan pula sering) "jujur" malah membunuh langkah kita kala menjalani hidup ini.

Nah, karena batas-batas itulah, saya pun merasa belum maksimal menjalani--atau bahkan pula belum--menemukan apa itu hidup dalam kehidupan?

Ah... persetan dengan kejujuran dan kehidupan! Toh, tak sedikit juga yang bilang, kalau hidup selalu jujur, maka kita tak pernah bisa menjalani kehidupan ini...