Lagi, pernyataan aneh saya kemukakan disini: "Susahnya Menjadi Gila". Mungkin, untuk yang satu ini perlu saya berikan sebuah penjabaran. Agar ke depan, ada orang yang sepaham dengan pernyataan saya, bahwa "untuk menjadi gila" itu susah. Beruntunglah mereka yang bisa gila tanpa harus berusaha untuk mendapatkannya. Atau, mereka yang memang terlahir untuk menjadi seseorang yang gila. Selamat untuk mereka...
Untuk diketahui, saya telah sering mengamati prilaku saudara-saudara kita yang mendapat julukan "orang gila" dari mereka yang menyatakan dirinya waras (bisa jadi saya berada dalam kelompok orang-orang itu). Bahkan, tak hanya sekadar pengamatan saja yang saya lakukan. Percaya atau tidak, saya pernah mewawancarai beberapa orang gila yang secara kebetulan saya temukan--atau memang yang sengaja saya cari.
Pertama, harus saya katakan bahwa pada mulanya, "kegiatan" mencari dan mewawancarai orang gila adalah tugas yang harus saya emban. Tapi, lama kelamaan, saya terbuai, dan tak lagi menganggap apa yang diembankan itu sebuah kewajiban yang harus saya lakukan. Melainkan sebuah kesenangan yang saya jalani tanpa beban.
Seingat saya, "kegiatan" itu saya lakukan sekitar satu setengah tahun lalu, minggu kedua di bulan puasa tahun 2002. Dan, bukan hanya saya yang diembankan tugas tersebut. Masih ada beberapa rekan saya yang juga mendapat "kepercayaan" yang sama. Maka, jadilah saya dan kawan-kawan saya itu "Pemburu Orang Gila", yang juga harus memotret orang-orang gila yang kami temui dan kami wawancarai.
"Gila!" pikir kami waktu itu. Tapi, tetap tugas itu kami lakukan, dan berhasil. Kami sukses membawa pulang jawaban-jawaban hasil wawancara, berikut potret-potret orang-orang gila yang kami jumpai dan memang sengaja kami cari itu. Dan, di sinilah otak dalam kepala saya berkata, "Betapa susahnya menjadi orang gila." Entah apakah kawan-kawan saya berpikiran sama dengan apa yang saya pikirkan waktu itu.
Orang-orang gila itu, menurut saya, adalah manusia-manusia yang "Menakjubkan!!!" Bagaimana tidak? Dalam kehidupan beragama, mereka mendapat sebuah prioritas khusus, yakni terbebas dari segala kewajiban-kewajiban ritual. Bahkan, apa yang disebut dengan "dosa" pun tak wajib pula mereka terima! Maka, tak salah jika saya menyebut mereka (orang-orang gila itu) sebagai "Kaum minimalis yang sukses dalam menjalani hidup".
Tak hanya itu, di dunia ini pun para orang-orang gila itu bisa membebaskan dirinya dari segala keterkungkungan akan aturan-aturan kehidupan. Aturan yang penuh dengan pembatasan-pembatasan untuk hidup dan berkehidupan. Aturan yang sengaja dibuat oleh mereka, yang menamakan dirinya "orang-orang sadar". Aturan, yang mereka pahami dan yakini, tak lebih hanya ada untuk menyiksa dirinya sendiri!!
Lalu, pernah pula suatu ketika saya mendengar sebuah kisah, bahwa ada orang-orang berilmu tinggi (dalam beragama), yang sengaja memposisikan diri mereka menjadi orang gila. Ya, orang gila yang sesungguh-sungguhnya orang gila itu. Tujuannya, kata orang yang menceritakan kisah ini kepada saya, adalah untuk menutupi segala ilmu yang mereka miliki, dari orang lain. Bahkan, katanya pula, "orang gila" yang mereka kisahkan, memiliki "kedekatan khusus" dengan Tuhan. Nah, untuk diketahui pula, salah seorang penutur kisah itu adalah orang yang mengembankan 'tugas anehnya' kepada saya dan rekan-rekan saya.
Namun terlepas dari itu semua, ijinkan saya mengajak Anda sejenak membalikkan fakta yang sama-sama kita fahami sejak dulu hingga sekarang. Cobalah Anda men-set up otak Anda untuk memikirkan bahwa orang gila menjadi kaum mayoritas, lalu kita (yang katanya sadar ini) menjadi kaum minimalis. Jika selesai Anda melakukan itu, selanjutnya bisakah Anda sebutkan, giliran siapa yang disebut sebagai orang gila di sini?
Itulah, mengapa saya katakan, betapa Susahnya Menjadi Gila...